Indonesia yang tergolong negara berkembang, keadaanya tidak jauh
berbeda dengan negara – negara lain di belahan bumi ini. Air bersih masih lebih
dinikmati oleh orang kota. Hal ini dapat dilihat dari pengadaan air bersih
dalam skala besar yang masih terpusat di perkotaan, yang dikelola Perusahaan
Air Minum (PAM) kota bersangkutan. Secara nasional penikmat air PAM jumahnya relatif kecil yakni
hanya 16,08%. Penduduk yang belum mendapat pelayanan PAM umumnya menggunakan
air tanah (sumur), air sungai, air hujan, mata air, dan lainnya.
Dilihat dari ketersediaan air, Indonesia adalah salah
satu dari 9 negara di dunia yang kaya air dan menempati urutan keenam dengan
2.530 kilometer kubik per tahun (http://www.propertyenet.com) atau rata – rata ketersediaan air sebesar 15.500
meter kubik per kapita per tahun, sedangkan rata – rata dunia adalah 600 meter
kubik per kapita per tahun . Jika dilihat dari angka – angka tampaknya mustahil
Indonesia akan mengalami kelangkaan air. Masalahnya, jumlah air sebesar itu
tidak terdistribusi merata di seluruh pelosok tanah air.
Total keutuhan
air penduduk Indonesia dapat dihitung dengan menggunakan konsep maya (virtual water). Air maya adalah keutuhan
air tak langsung untuk konsumsi manusia, seperti kebutuhan karbohidrat, sayur,
buah, daging, dan lain – lain. Dengan cara ini total kebutuhan air maya per
orang adalah 2.600 liter per kapita per hari atau 952 meter kubik per kapita
per tahun. Air sebanyak ini digunakan untuk berbagai keperluan yang meliputi
keperluan domestik (memasak, mencuci, dan sebagainya) sebesar 8,1%, keperluan pertanian
sebesar 91,4%, dan sektor industri sebesar 0,5% (anonim, 1999) dalam (http://www.voctech.org.bn).
Jika dicermati
lebih jauh, penyedian air khususnya air bersih di Indonesia masih menghadapi
berbagai kendala yang kompleks, mulai dari kelembagaan, teknologi, anggaran,
pencemaran, maupun sikap dari masyarakat. Pengelolaan air bersih ini berpacu
dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat serta perkembangan wilayah dan
industri yang cepat. Masyarakat dan Industri di perkotaan inilah yang termasuk
boros air. Krisis ekonomi di Indonesia yang sudah berlangsung hampir dua tahun
juga ikut mengancam pasokan air bersih.
Permasalahan air di Indonesia pada dasarnya dapat dibagi
dalam dua golongan yaitu masalah kualitas dan kuantitas. Kualitas air sangat
erat kaitannya dengan daya tampung air yang masalahnya sebagai berikut
a. Pencemaran
oleh bahan kimia dari sektor pertanian, terutama dari pestisida, dan sisa dari
pemupukan.
b. Pencemaran
air dari limbah padat dan limbah cair domestik : pemukiman, kantor, dan tempat–tempat
umum (pasar, terminal)
c. Pencemaran
air oleh kegiatan sektor industri
Permasalahan
kuantitas air lebih menjurus pada kemampuan merosotnya daya dukung yang makin
mengecil yang disebabkan oleh :
a. Eksploitasi
berlebihan yang mengakibatkan imbangan air menjadi melampaui daya dukungnya.
Perlu diketahui bahwa ketersediaan air adalah fungsi ruang hingga dapat terjadi
secara makro imbangan airnya baik namun secara mikro akan terjadi masalah.
b. Eksploitasi
yang penggunaan airnya tidak tepat sasaran yang hanya mengejar kepentingan
jangka pendek, misalnya pengeboran air tanah untuk keperluan irigasi.
Adanya
permasalahan air di Indonesia akan menimbulkan beberapa akibat. Salah satu
akibatnya yaitu menurunnya kualitas manusia
Indonesia, yang ditunjukan oleh indikator sebagai berikut (Sunjoto,2001) dalam (http://www.bpkpenabur.or.id) :
a. Angka kematian bayi di Indonesia tergolong
tinggi, yaitu mencapai 55 per 1000 kelahiran hidup dibandingkan dengan negara –
negara di ASEAN; Singapura 4%, Brunei Darusalam 8%, Malaysia 12%, Thailand 32%,
Vietnam 39% dan Filipina 38%
b. Cakupan
pelayanan air bersih. Pada tahun 1955 sebagian masyarakat (71,9%) masih
memanfaatkan sumber air minum yang tidak terlindungi seperti : air sumur 50,3%,
mata air 13,62%, sungai 4,73%, air hujan dan lain – lain 3,51%. Sedangkan yang
menggunakan sumber air terlindung dari ledeng 16,37% dan pompa air sebesar 11,
73%. ( Sumber : Profil Kesehatan
Indonesia,1996).
Karena
kuantitas dan kuaitas air tanah (ground
water) makin merosot, penyediaan air bersih di masa depan amat bergantung
kepada air permukaan (surface water).
Air permukaan ini merupakan air baku yang akan dikelola oleh perusahaan air
minum di kota–kota besar. Selain dari sungai, bahan aku air minum berasal dari
sumur air artesis, mata air, dan sumber air lainnya., Indonesia yang subur
memiliki banyak sumber air. PDAM yang ada di Indonesia memanfaatkan airnya dari
201 sungai, 248 mata air, dan 91 artesis.
Tidak semua
daerah beruntung memiliki sumber mata air besar, seperti di Umbulan, Jawa Timur
yang memiliki debit air 5000 liter per detik. Sementara PAM, Jaya harus puas
mengelola air sungai dari Waduk Jatiluhur. Padahal sungai ini sudah
tercemar oleh limbah industri dan limbah
rumah tangga yang dibuang seenaknya ke sungai. Pasokan air dari sungai juga
makin menipis lantaran sumber mata air di hulu (puncak) telah terganggu oleh
kehadiran bangunan beton. Untuk mengelola bahan baku yang tercemar, tentu
dibutuhkan teknologi dan biaya yang lebih mahal. (Sudiarsa.Air Untuk Masa Depan.2005)
Akibatnya,
kualitas air minum yang diproduksi oleh perusahaan air minum juga rendah.
Masyarakat kerap mengeluh air yang disalurkan PDAM sering macet, keruh, dan
masih bau kaporit. Masyarakat di beberapa wilayah akhirnya hanya menggunakan
air PAM untuk mandi, sedangkan untuk minum mereka terpaksa mengeluarkan uang
ekstra untuk membeli Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang harganya lebih mahal.
Jika hanya bisa dipakai untuk mandi, kepanjangan PDAM bisa dipelesetkan menjadi
Perusahaan Daerah Air Mandi!
Selain kualitas yang belum memadai, PDAM juga
menghadapi efisiensi dan tingkat kebocoran yang masih tinggi. Tingkat kebocoran
fisik perusahaan air minum di Indonesia rata – rata di atas 30%. Bahkan ,
tingkat kebocoran di PAM Jawa mencapai 57%. Kehilangan air ini disebabkan oleh
pipa yang sudah tua dan juga pencurian dengan memasang sambungan liar sebelum
masuk meteran. Dari kebocoran fisik saja, PDAM sudah merugi miliaran rupiah.
Belum lagi kerugian karena in efisiensi pengelolaan.

0 komentar:
Posting Komentar